oleh Haeruddin purnawanto
Air mata telah lelah menetes
Darahpun enggan mengalir....
Ketika hidup terbelenggu,
Oleh rantai penjajahan bermerek merdeka
Kebebasan pun terpasung oleh jeritan perut-perut kosong
Yang sudah berhari-hari tak tersentuh apapun,
Kemakmuran hanya hayalan,
Bagi insan -insan yang tersisi disudut negeri
Yang konon katanya negeri kaya raya,
ternyata itu hanya katanya.
Sementara penguasa nan dzolim
Berpesta pora,
Bernyanyi dan menari
Dengan iringan irama Syaiton berlabel Korupsi
Lalu dimanakah Hati dan Nurani itu....?
Mungkinkah semuanya telah musnah
Ditelan Kobodohan yang berbalut Kepintaran,
Kepintaran yang berbalut kemunafikan.
Goresan 01/04/2012
Air mata telah lelah menetes
Darahpun enggan mengalir....
Ketika hidup terbelenggu,
Oleh rantai penjajahan bermerek merdeka
Kebebasan pun terpasung oleh jeritan perut-perut kosong
Yang sudah berhari-hari tak tersentuh apapun,
Kemakmuran hanya hayalan,
Bagi insan -insan yang tersisi disudut negeri
Yang konon katanya negeri kaya raya,
ternyata itu hanya katanya.
Sementara penguasa nan dzolim
Berpesta pora,
Bernyanyi dan menari
Dengan iringan irama Syaiton berlabel Korupsi
Lalu dimanakah Hati dan Nurani itu....?
Mungkinkah semuanya telah musnah
Ditelan Kobodohan yang berbalut Kepintaran,
Kepintaran yang berbalut kemunafikan.

No comments:
Post a Comment