KIJANG EMASKU

oleh: Haeruddin Purnawanto



Senja telah berlalu
Pekatnya malam menghampiri
Rasa ini kian pilu
Bagai sembilu menyayat hati

Kijang emas menjauh pergi
Tinggalkan luka pada diri
Binar bintang di mata indahmu
Lengkungan pelangi di sudut bibirmu
Semua memudar dan berlalu

Hanya satu yg tersisa
Tak akan pupus tergerus masa
Nostalgia kita di ujung asa
Memory kasih yang pernah ada.


YANG SATU TETAPLAH SATU

oleh :  Haeruddin Purnawanto


Yang satu tetaplah satu
Jangan kau paksa menjadi dua
Apalagi tiga atau empat
Karena tak akan bisa menyatu dan rapat
Walau kau lipat tetap tak dapat

Yang  satu tetaplah satu
Sampai kapanpun akan begitu
Sampai diri menuju penghujung masa nan layu
Tak jua lelah letih kan merayu
Tertumbuk tak koyak tertikam prahara pilu

Yang satu tetaplah satu
Akan selalu satu di pembuluh harap
Heningnya indah merasuk nurani
Di jalinan nyata yang hanya sekejap
Kelak mewangi di pelukan yang hakiki

Yang satu tetaplah satu
Semoga satu dan selalu satu
Tiada tergoda kemilau fana
Ketika dentingan nista merupa nirwana madu
Tetaplah kokoh hingga akhir detak rasa

Yang satu tetaplah satu
Tak perlu gaduh memaksanya berupa dadu
Tak perlu membujuk ataupun merayu
Biarlah heningnya mengalun laksana simponi syahdu
Bebaskan diri dan ikuti suluk yang satu.


SELEPAS HUJAN SORE

oleh  Haeruddin purnawanto














Selepas hujan sore menjemput malam
Serempak terdiam dalam syahdunya petang
Suara gemericik sisa hujan diujung gang
Terhempas terbiar oleh tapak kaki lalu lalang

Selepas hujan sore mengguyur bumi
Aku masih disini nikmati dingin dan sepi
Menetes sisa gerimis tiada bara tiada api
Hanya senyum manismu yang masih setia disudut hati

Selepas hujan sore dipulau dewata
Sedang apakah dirimu disana?
Masih adakah senyum penawar duka?
Masih adakah tawa pengobat luka?

Selepas hujan sore dialam maya
kuharap kau masih mampu membaca apa yang ada
Agar hatimu tetap indah tertata
Walau dihempas oleh berjuta prahara

Selepas hujan sore dipantura bali
Aku masih tetap setia merindui
Walau raga tak bersama lagi
Namun namamu tetap ada disetiap jerit hati.



Bali:21-06-2017

RAHMAN DAN RAHIM-MU JUA

oleh  Haeruddin Purnawanto













Menggelinding masa disepertiga akhir ramadhan-Mu
Membumi rasa hening telaah ribuan kisah laluku
Segala cinta jika pulang berbekal segenap lelaku
Melarut senja di hangatnya gersang membisu
Hati terbata pada bait mengeja alam syahdu

Pada syair menelusur maya indah bertalu

Bertaut rasa mengurai tanya dalam sendu
Berpendar jiwa mengungkap makna nan pilu
Kadang buta lagi buntu bergulat jadi satu
Sebelum temukan jalan menuju yang Satu


Tertatih di lingkup sastra maya bergemuru

Namun di sinilah butiran uniknya terpadu
Segala cerita tersaji alami tanpa deru
Ada rindu membiru rasa sayangpun  menyerbu
Ada kepak sayap cinta memburu haru

Bahagiapun merona persegi laksana dadu

Di jalinan ruang pena tanpa batas berlaku
Meniti toriq tapaki suluk rahasia-Mu
Lintasan karya insani hanya pendukung penyeru
Namun rahman rahim-Mu jua Penentram jiwaku yang haru.



Bali 18-06-2017

REMBULAN MERINDU


Oleh Haeruddin Purnawanto
Ketika sang malam telah tiba
Rona lembayung senja memudar lalu tiada
Putri gulita hadir menyapa
Aneka rasa hinggapi jiwa

Sementara Langit begitu mempesona
Kerlip gemintang bagaikan menggoda
Sang rembulan sedang kasmaran menanti cinta
Akankah sekarang masa untuk bersua...?

Tak ada lagi yang terpikir
Semua berlalu dan tersingkir
Hanya ada rindu yang terukir
Tak perduli lagi guntur atau petir

Yang terpenting adalah hadirnya sang bintang
Menyapa rembulan yang mabuk kepayang
Dengan aroma wangi nan merangsang
Hadirkan banyu enyahkan gersang.


Bali, 09 05 2017